Mengenal Lebih Jauh Tentang Suku Maya

 

Siapa yang tidak mengenal suku maya, kelompok suku yang tinggal di semenanjung Yucatan ini begitu terkenal di dunia. Terlebih pada 2009 lalu, suku ini sempat menyita perhatian dunia karena isu ramalan Kiamat 2012 nya yang sempat menghebohkan.

Kelompok suku yang berbatasan langsung dengan samudera pasifik di sebelah barat, dan Laut karibia di sebelah timur ini mencapai kejayaan di bidang teknologi pada tahun 250 M hingga 925 M. Suku ini menghasilkan sebuah peradaban unik seperti bangunan (Chichen Itza), pertanian didominasi dengan tanaman jagung dan latex, yang terkenal dari suku maya salah satunya adalah sebuah sumur yang disebut Mata Air Senote atau Cenotes. Dahulu kala sumur ini digunakan untuk membuang jiwa manusia yang masih hidup untuk dijadikan tumbal sebagai penghormatan kepada Dewa.

Suku Maya juga terkenal dengan peradaban nya yang sangat maju. Peradaban suku maya kuno merupakan salah satu masyarakat yang paling dominan, dimana mereka dipusatkan dalam satu blok geografis yang mencakup seluruh Yucatan, Belize, bagian Meksiko, bagian barat Honduras dan El Salvador.

Sejarah menyebutkan bahwa suku maya kuno paqling awal sekitar 1800 SM, dimana mereka sering bercocok tanam selama masa Praclassic Tengah yang berlangsung sampai sekiat 300 SM.

Suku yang belum pernah membeli Tiket ke Bangkok ini, juga terkenal karena bisa membangun banyak kuil dan istana dalam bentuk piramida dengan dekorasi dan relief prasasti yang rumit. Maka tak heran suku maya pun sering disebut sebagai seniman besar Mesoamerika.Dan yang tak kalau menariknya, suku maya membangun peradaban yang besar itu pada iklim hutan hujan yang tropis. Hal ini bagi sebagian para ahli sungguh luar biasa karena secara tradisional masyarakat kuno saja kebanyakan berkembang di iklim kering dimana manajemen terpusat dari sumber daya air.

Selain dari peradabannya yang mengagumkan, suku maya juga terkenal dengan tradisi kecantikan nya yang melegenda. Dimana tradisi perempuan disana melambangkan kecantikannya dengan membuat tempurung kepalanya menjadi rata, dengan cara mengikatkan papan di dahi dan tempurung belakang. Tradisi ini dilakukan mulai dari bayi sehinggan ketika dewasa, mereka merasa anggun dengan memiliki tulang dahi yang rata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s